Hari 2: Pasal 15 - PADA PESTA PERNIKAHAN
28 September 2026 · Hari 2

Hari 2: Pasal 15 - PADA PESTA PERNIKAHAN

Halaman 143-145 | Pasal 15, Paragraf 6-10 | KSZ1 143.3-KSZ1 145.2

Ayat Inti

Yohanes 2:11

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 13 membaca Bab 15: Pada Pesta Pernikahan. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 143.3 Ketika para tamu berhimpun, banyak yang tampaknya asyik memikirkan pokok-pokok pembicaraan yang sangat menarik hati. Kegembiraan yang tertekan meliputi seluruh himpunan itu. Rombongan-rombongan kecil berbicara satu sama lain dengan nada gembira tetapi tenang, dan pandangan ta’ajub dialihkan kepada Putra Maria itu. Ketika Maria telah mendengar kesaksian murid-murid itu tentang Yesus, hatinya pun digembirakan dengan kepastian bahwa segala harapannya yang telah lama ditaruhnya dalam hatinya tidak sia-sia belaka. Namun sudah tentu ia akan lebih daripada manusia sekiranya tidak ada bercampur dengan sukacitanya yang suci itu sekelumit kebanggaan sewajarnya dari ibu yang penyayang itu. Ketika melihat pandangan yang sekian banyak ditujukan kepada Yesus, ia sangat mengingini agar Ia membuktikan kepada himpunan itu bahwa sesungguhnya Ialah Yang Dihormati Allah itu. Ia mengharapkan supaya kiranya ada kesempatan bagi Dia untuk mengadakan suatu mukjizat di hadapan mereka.

KSZ1 144.1 Menurut adat istiadat pada zaman itu pesta nikah berlangsung beberapa hari lamanya. Pada kesempatan ini, sebelum pesta itu berakhir, diketahui bahwa persediaan air anggur sudah habis. Hal ini menimbulkan kebingungan dan penyesalan yang amat sangat. Tidaklah biasa untuk tidak menghidangkan air anggur pada pesta, dan tiadanya air anggur akan seolah-olah menunjukkan kurangnya persiapan menerima tamu. Selaku seorang anggota kaum keluarga dari yang bersangkutan itu, Maria telah menolong dalam urusan pesta itu, dan sekarang berbicaralah ia kepada Yesus, katanya, “Mereka kehabisan anggur.” Perkataan ini merupakan suatu anjuran supaya Ia kiranya mencukupkan keperluan mereka itu. Tetapi Yesus menyahut, “Mau apakah engkau daripada-Ku, ibu? SaatKu belum tiba.”

KSZ1 144.2 Jawaban ini, yang tampaknya kasar bagi kita, tidaklah menyatakan sikap dingin atau tidak adanya kesopanan. Bentuk jawaban Juruselamat kepada ibu-Nya itu adalah sesuai dengan adat ketimuran. Ucapan itu digunakan terhadap orang-orang yang kepadanya hendak ditunjukkan rasa hormat. Setiap perbuatan Kristus selama hidup di dunia ini adalah selaras dengan ajaran yang telah diberikan-Nya sendiri, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Aliahmu, kepadamu.” Keluaran 20:12. Di kayu salib, dalam per-buatan kelemah-lembutan-Nya yang terakhir terhadap ibu-Nya, Yesus menyapa dia dengan cara yang begitu pula, ketika Ia menyerahkan dia kepada penjagaan murid-Nya yang paling dikasihi-Nya. Baik di pesta nikah itu maupun di kayu salib, kasih yang dinyatakan dengan nada suara, pandangan mata dan tingkah laku itu menafsirkan ucapan-Nya itu.

KSZ1 145.1 Pada kunjungan-Nya ke Bait Suci waktu Ia masih kanak-kanak, ketika rahasia pekerjaan hidup-Nya terbuka di hadapan-Nya, Kristus telah berkata kepada Maria, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Lukas 2:49. Ucapan ini menunjukkan inti seluruh hidup dan pekerjaan-Nya. Segala sesuatu dikesampingkan demi pekerjaan-Nya, yaitu pekerjaan penebusan yang besar yang hendak dilaksanakan-Nya oleh kedatangan-Nya ke dunia ini. Sekarang Ia mengulangi pelajaran itu. Ada bahaya bahwa Maria menganggap hubungannya dengan Yesus memberi kepadanya hak istimewa atas Dia, dan hak, dalam sesuatu tingkat, untuk memimpin Dia di dalam tugas-Nya. Selama tiga puluh tahun Ia telah merupakan seorang anak yang penuh kasih dan penurut baginya, dan kasih-Nya tidak berubah; tetapi sekarang Ia mesti pergi keluar untuk melakukan pekerjaan Bapa-Nya. Sebagai Putra Yang Mahatinggi, dan Juruselamat dunia, tiada satu pun ikatan duniawi yang dapat menahan Dia dari melaksanakan pekerjaan-Nya itu, atau mempengaruhi tingkah laku-Nya. Ia mesti bebas untuk melakukan kehendak Allah. Pelajaran ini adalah juga untuk kita. Hak-hak Allah adalah lebih utama daripada segala ikatan hubungan manusia. Tiada satu pun penarikan duniawi yang boleh memalingkan kaki kita dari jalan yang disuruhNya kitajalani.

KSZ1 145.2 Satu-satunya harapan penebusan bagi kita umat manusia yang telah berdosa ini ialah di dalam Kristus. Maria dapat memperoleh keselamatan hanya oleh Anak Domba Allah itu. Di dalam dirinya sendiri, ia tidak memiliki jasa. Hubungannya dengan Yesus tidak menempatkan dia dalam sesuatu hubungan rohani dengan Dia yang berbeda dengan yang dimiliki oleh siapa pun juga. Hal ini ternyata dalam ucapan Juruselamat. Dijelaskan-Nya perbedaan antara hubungan-Nya dengan ibu-Nya sebagai Anak manusia dan sebagai Anak Allah. Ikatan kekeluargaan antara mereka bagaimana pun tidak menaruh dia dalam kesamaan dengan Dia.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

28 September 2026 | Hari 2
Hari 2: Pasal 15 - PADA PESTA PERNIKAHAN

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 15 - PADA PESTA PERNIKAHAN
Halaman 143-145 | Pasal 15, Paragraf 6-10 | KSZ1 143.3-KSZ1 145.2

Ayat Inti:
Yohanes 2:11
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 13 membaca Bab 15: Pada Pesta Pernikahan. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://mail.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-13-hari-2-2026-09-28

Teks Lengkap:

Ketika para tamu berhimpun, banyak yang tampaknya asyik memikirkan pokok-pokok pembicaraan yang sangat menarik hati. Kegembiraan yang tertekan meliputi seluruh himpunan itu. Rombongan-rombongan kecil berbicara satu sama lain dengan nada gembira tetapi tenang, dan pandangan ta’ajub dialihkan kepada Putra Maria itu. Ketika Maria telah mendengar kesaksian murid-murid itu tentang Yesus, hatinya pun digembirakan dengan kepastian bahwa segala harapannya yang telah lama ditaruhnya dalam hatinya tidak sia-sia belaka. Namun sudah tentu ia akan lebih daripada manusia sekiranya tidak ada bercampur dengan sukacitanya yang suci itu sekelumit kebanggaan sewajarnya dari ibu yang penyayang itu. Ketika melihat pandangan yang sekian banyak ditujukan kepada Yesus, ia sangat mengingini agar Ia membuktikan kepada himpunan itu bahwa sesungguhnya Ialah Yang Dihormati Allah itu. Ia mengharapkan supaya kiranya ada kesempatan bagi Dia untuk mengadakan suatu mukjizat di hadapan mereka. [KSZ1 143.3]

Menurut adat istiadat pada zaman itu pesta nikah berlangsung beberapa hari lamanya. Pada kesempatan ini, sebelum pesta itu berakhir, diketahui bahwa persediaan air anggur sudah habis. Hal ini menimbulkan kebingungan dan penyesalan yang amat sangat. Tidaklah biasa untuk tidak menghidangkan air anggur pada pesta, dan tiadanya air anggur akan seolah-olah menunjukkan kurangnya persiapan menerima tamu. Selaku seorang anggota kaum keluarga dari yang bersangkutan itu, Maria telah menolong dalam urusan pesta itu, dan sekarang berbicaralah ia kepada Yesus, katanya, “Mereka kehabisan anggur.” Perkataan ini merupakan suatu anjuran supaya Ia kiranya mencukupkan keperluan mereka itu. Tetapi Yesus menyahut, “Mau apakah engkau daripada-Ku, ibu? SaatKu belum tiba.” [KSZ1 144.1]

Jawaban ini, yang tampaknya kasar bagi kita, tidaklah menyatakan sikap dingin atau tidak adanya kesopanan. Bentuk jawaban Juruselamat kepada ibu-Nya itu adalah sesuai dengan adat ketimuran. Ucapan itu digunakan terhadap orang-orang yang kepadanya hendak ditunjukkan rasa hormat. Setiap perbuatan Kristus selama hidup di dunia ini adalah selaras dengan ajaran yang telah diberikan-Nya sendiri, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Aliahmu, kepadamu.” Keluaran 20:12. Di kayu salib, dalam per-buatan kelemah-lembutan-Nya yang terakhir terhadap ibu-Nya, Yesus menyapa dia dengan cara yang begitu pula, ketika Ia menyerahkan dia kepada penjagaan murid-Nya yang paling dikasihi-Nya. Baik di pesta nikah itu maupun di kayu salib, kasih yang dinyatakan dengan nada suara, pandangan mata dan tingkah laku itu menafsirkan ucapan-Nya itu. [KSZ1 144.2]

Pada kunjungan-Nya ke Bait Suci waktu Ia masih kanak-kanak, ketika rahasia pekerjaan hidup-Nya terbuka di hadapan-Nya, Kristus telah berkata kepada Maria, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Lukas 2:49. Ucapan ini menunjukkan inti seluruh hidup dan pekerjaan-Nya. Segala sesuatu dikesampingkan demi pekerjaan-Nya, yaitu pekerjaan penebusan yang besar yang hendak dilaksanakan-Nya oleh kedatangan-Nya ke dunia ini. Sekarang Ia mengulangi pelajaran itu. Ada bahaya bahwa Maria menganggap hubungannya dengan Yesus memberi kepadanya hak istimewa atas Dia, dan hak, dalam sesuatu tingkat, untuk memimpin Dia di dalam tugas-Nya. Selama tiga puluh tahun Ia telah merupakan seorang anak yang penuh kasih dan penurut baginya, dan kasih-Nya tidak berubah; tetapi sekarang Ia mesti pergi keluar untuk melakukan pekerjaan Bapa-Nya. Sebagai Putra Yang Mahatinggi, dan Juruselamat dunia, tiada satu pun ikatan duniawi yang dapat menahan Dia dari melaksanakan pekerjaan-Nya itu, atau mempengaruhi tingkah laku-Nya. Ia mesti bebas untuk melakukan kehendak Allah. Pelajaran ini adalah juga untuk kita. Hak-hak Allah adalah lebih utama daripada segala ikatan hubungan manusia. Tiada satu pun penarikan duniawi yang boleh memalingkan kaki kita dari jalan yang disuruhNya kitajalani. [KSZ1 145.1]

Satu-satunya harapan penebusan bagi kita umat manusia yang telah berdosa ini ialah di dalam Kristus. Maria dapat memperoleh keselamatan hanya oleh Anak Domba Allah itu. Di dalam dirinya sendiri, ia tidak memiliki jasa. Hubungannya dengan Yesus tidak menempatkan dia dalam sesuatu hubungan rohani dengan Dia yang berbeda dengan yang dimiliki oleh siapa pun juga. Hal ini ternyata dalam ucapan Juruselamat. Dijelaskan-Nya perbedaan antara hubungan-Nya dengan ibu-Nya sebagai Anak manusia dan sebagai Anak Allah. Ikatan kekeluargaan antara mereka bagaimana pun tidak menaruh dia dalam kesamaan dengan Dia. [KSZ1 145.2]