Hari 5: Pasal 17 - NIKODEMUS
15 Oktober 2026 · Hari 5

Hari 5: Pasal 17 - NIKODEMUS

Halaman 175-176 | Pasal 17, Paragraf 21-24 | KSZ1 175.1-KSZ1 176.1

Ayat Inti

Yohanes 3:16

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 15 membaca Bab 17: Nikodemus. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 175.1 Nikodemus telah membaca Alkitab dengan pikiran yang gelap; tetapi kini mulailah ia mengerti akan maknanya. Ia melihat bahwa penurutan yang paling saksama pada hukum itu secara harfiah bila dikenakan kepada kehidupan secara lahir saja, tidak dapat memberi hak kepada manusia untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Dalam penilaian manusia, kehidupannya sudah benar dan mulia; tetapi di hadirat Kristus ia merasa bahwa hatinya najis, dan kehidupannya tidak suci.

KSZ1 175.2 Nikodemus sedang tertarik kepada Kristus. Ketika Juruselamat men-jelaskan kepadanya tentang kelahiran baru itu, ia pun rindu supaya peru-bahan ini dilaksanakan di dalam dirinya sendiri. Dengan jalan apakah hal itu dapat dilaksanakan? Yesus menjawab pertanyaan yang tidak diucapkan itu: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”

KSZ1 175.3 Inilah dasar yang dipahami benar oleh Nikodemus. Lambang ular yang ditinggikan itu menjelaskan kepadanya pekerjaan Juruselamat. Ketika bani Israel sudah hampir binasa akibat bisa ular tedung, Allah menyuruh Musa membuat seekor ular tembaga, serta meninggikannya di tengah-tengah himpunan orang banyak. Lalu kabar disiarkan di seluruh perkemahan bahwa semua orang yang mau memandang kepada ular itu akan hidup. Orang banyak itu tahu benar bahwa dalam dirinya sendiri ular itu tidak mempunyai kuasa untuk menolong mereka. Ular itu melambangkan Kristus. Sebagaimana rupa ular yang dibuat menurut rupa ularular pembinasa itu ditinggikan untuk kesembuhan mereka, demikian juga Dia yang dibuat “dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa” (Roma 8:3) harus menjadi Penebus mereka. Kebanyakan orang Israel menganggap bahwa upacara korban itu sendiri mengandung khasiat untuk membebaskan mereka dari dosa. Allah ingin mengajarkan kepada mereka bahwa semuanya itu tidak mengandung nilai lebih daripada ular tembaga itu, yang maksudnya ialah menuntun pikiran mereka kepada Juruselamat. Apakah untuk kesembuhan luka- luka mereka ataupun keampunan segala dosa, mereka tidak dapat berbuat apa-apa bagi diri sendiri kecuali menunjukkan iman mereka pada Karunia Allah. Mereka harus melihat dan hidup.

KSZ1 176.1 Orang-orang yang telah digigit oleh ular-ular itu mungkin bertangguh untuk melihat. Mereka mungkin meragukan bagaimana bisa ada khasiat di dalam lambang tembaga itu. Mereka mungkin menuntut penjelasan secara ilmu pengetahuan. Tetapi tidak ada penjelasan yang diberikan. Enggan memandang berarti binasa.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

15 Oktober 2026 | Hari 5
Hari 5: Pasal 17 - NIKODEMUS

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 17 - NIKODEMUS
Halaman 175-176 | Pasal 17, Paragraf 21-24 | KSZ1 175.1-KSZ1 176.1

Ayat Inti:
Yohanes 3:16
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 15 membaca Bab 17: Nikodemus. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://mail.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-15-hari-5-2026-10-15

Teks Lengkap:

Nikodemus telah membaca Alkitab dengan pikiran yang gelap; tetapi kini mulailah ia mengerti akan maknanya. Ia melihat bahwa penurutan yang paling saksama pada hukum itu secara harfiah bila dikenakan kepada kehidupan secara lahir saja, tidak dapat memberi hak kepada manusia untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Dalam penilaian manusia, kehidupannya sudah benar dan mulia; tetapi di hadirat Kristus ia merasa bahwa hatinya najis, dan kehidupannya tidak suci. [KSZ1 175.1]

Nikodemus sedang tertarik kepada Kristus. Ketika Juruselamat men-jelaskan kepadanya tentang kelahiran baru itu, ia pun rindu supaya peru-bahan ini dilaksanakan di dalam dirinya sendiri. Dengan jalan apakah hal itu dapat dilaksanakan? Yesus menjawab pertanyaan yang tidak diucapkan itu: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” [KSZ1 175.2]

Inilah dasar yang dipahami benar oleh Nikodemus. Lambang ular yang ditinggikan itu menjelaskan kepadanya pekerjaan Juruselamat. Ketika bani Israel sudah hampir binasa akibat bisa ular tedung, Allah menyuruh Musa membuat seekor ular tembaga, serta meninggikannya di tengah-tengah himpunan orang banyak. Lalu kabar disiarkan di seluruh perkemahan bahwa semua orang yang mau memandang kepada ular itu akan hidup. Orang banyak itu tahu benar bahwa dalam dirinya sendiri ular itu tidak mempunyai kuasa untuk menolong mereka. Ular itu melambangkan Kristus. Sebagaimana rupa ular yang dibuat menurut rupa ularular pembinasa itu ditinggikan untuk kesembuhan mereka, demikian juga Dia yang dibuat “dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa” (Roma 8:3) harus menjadi Penebus mereka. Kebanyakan orang Israel menganggap bahwa upacara korban itu sendiri mengandung khasiat untuk membebaskan mereka dari dosa. Allah ingin mengajarkan kepada mereka bahwa semuanya itu tidak mengandung nilai lebih daripada ular tembaga itu, yang maksudnya ialah menuntun pikiran mereka kepada Juruselamat. Apakah untuk kesembuhan luka- luka mereka ataupun keampunan segala dosa, mereka tidak dapat berbuat apa-apa bagi diri sendiri kecuali menunjukkan iman mereka pada Karunia Allah. Mereka harus melihat dan hidup. [KSZ1 175.3]

Orang-orang yang telah digigit oleh ular-ular itu mungkin bertangguh untuk melihat. Mereka mungkin meragukan bagaimana bisa ada khasiat di dalam lambang tembaga itu. Mereka mungkin menuntut penjelasan secara ilmu pengetahuan. Tetapi tidak ada penjelasan yang diberikan. Enggan memandang berarti binasa. [KSZ1 176.1]