27 Oktober 2026 · Hari 3
Hari 3: Pasal 19 - DI SUMUR YAKUB
Halaman 189-190 | Pasal 19, Paragraf 13-18 | KSZ1 189.1-KSZ1 190.3
Ayat Inti
Yohanes 4:14
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 17 membaca Bab 19: Di Sumur Yakub. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 189.1 Suatu pun tidak dapat disangkalnya; tetapi ia berusaha mengelakkan semua sebutan tentang sesuatu pokok pembicaraan yang tidak terlalu di-sukai. Dengan rasa hormat yang sungguh, berkatalah ia, “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.” Lalu, dengan berharap hendak mendiamkan keyakinan itu, beralihlah ia kepada pokok-pokok pertentangan agama. Jika ia seorang nabi, sudah tentu Ia dapat memberi-kan kepadanya petunjuk tentang persoalan yang sudah sekian lamanya diperdebatkan .
KSZ1 189.2 Dengan sabarbya Yesus membiarkan dia menuntun percakapan itu sekehendak hatinya. Sementara itu dinantikan-Nya kesempatan untuk menjelaskan kebenaran itu dalam hatinya “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” Gunung Gerizim nampak dari tempat itu. Bait Sucinya sudah dimusnahkan, dan hanya mezbahnya yang masih ada. Tempat sembahyang itu telah menjadi pokok perbantahan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Beberapa dari nenek moyang bangsa yang dahulu pernah termasuk bangsa Israel; tetapi karena dosa-dosanya, Tuhan mem-biarkan mereka dikalahkan oleh sesuatu bangsa penyembah berhala. Turun temurun mereka bercampur gaul dengan para penyembah berhala, yang agamanya berangsur-angsur menajiskan agama mereka sendiri. Memang mereka percaya bahwa berhala-berhala mereka hanyalah untuk mengingatkan mereka tentang Allah yang hidup, Pemerintah alam se-mesta; namun orang terpengaruh untuk menghormati patung-patung ukiran mereka itu.
KSZ1 189.3 Ketika Bait Suci di Yerusalem dibangun pada zaman Ezra, bangsa Samaria itu ingin menggabungkan diri dengan bangsa Yahudi dalam pembangunan itu. Kesempatan mulia ini tidak diberikan kepada mereka, dan timbullah perseteruan yang pahit antara kedua bangsa itu. Bangsa Samaria membangun bait suci saingan di Gunung Gerizim. Di sini mereka berbakti sesuai dengan upacara keagamaan Musa, sungguh pun mereka tidak meninggalkan penyembahan berhala seluruhnya. Tetapi malapetaka menimpa mereka, bait suci itu dibinasakan oleh musuhmusuh mereka, dan nampaknya mereka itu seolah-olah terkutuk; namun mereka masih berpaut pada tradisi-tradisi dan upacara-upacara perbaktian mereka. Mereka tidak mau mengakui Bait Suci di Yerusalem itu se-bagai rumah Allah, ataupun mengakui bahwa agama bangsa Yahudi itu lebih unggul daripada agama mereka.
KSZ1 190.1 Untuk menjawab pertanyaan wanita itu, Yesus berkata, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan me-nyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.” Yesus telah menunjukkan bahwa Ia bebas dari prasangka bangsa Yahudi terhadap bangsa Samaria. Sekarang la berusaha hendak merubuhkan prasangka wanita Samaria itu terhadap orang Yahudi. Sementara menunjuk kepada kenyataan bahwa iman bangsa Samaria sudah dinajiskan oleh penyem-bahan berhala, Ia mengatakan bahwa kebenaran-kebenaran utama tentang penebusan telah diamanatkan kepada bangsa Yahudi, dan bahwa dari antara mereka itulah Mesias akan datang. Dalam Tulisan-tulisan Suci mereka mendapat keterangan yang jelas tentang tabiat Allah dan asas-asas pemerintahan-Nya. Yesus menggolongkan diri-Nya sendiri dengan bangsa Yahudi sebagai bangsa yang telah dikaruniai Allah suatu pengetahuan tentang diri-Nya.
KSZ1 190.2 Ia ingin mengangkat pikiran para pendengar-Nya di atas soal-soal yang menyangkut tatacara dan upacara belaka, serta soal-soal pertentangan. ‘Tetapi saatnya akan datang,” kata-Nya, “Dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
KSZ1 190.3 Di sini dinyatakan kebenaran yang sama yang telah dinyatakan oleh Yesus kepada Nikodemus ketika Ia berkata, “Jika seorang tidak dilahirkan , ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3:3. Bukannya oleh mencari sesuatu gunung yang suci atau sesuatu rumah ibadah yang suci maka manusia dibawa ke dalam persekutuan dengan surga. Agama tidak boleh dibatasi di dalam upacara secara lahir saja. Agama yang berasal dari pada Allah ialah satu-satunya agama yang akan menuntun kepada Allah. Untuk dapat berbakti kepada-Nya dengan benar, kita harus dilahirkan dari Roh Ilahi. Ini akan menyucikan hati serta memperbarui pikiran, memberikan kepada kita suatu kesanggupan yang baru untuk mengenal serta mengasihi Allah. Akan diberikannya kepada kita sebuah penurutan sukarela kepada segala tuntutan-Nya. Inilah perbaktian yang benar. Itulah hasil kerja Roh Kudus. Oleh Roh setiap doa yang sungguh-sungguh disusun, dan doa semacam itu berkenan kepada Allah. Di mana saja suatu jiwa mencari Allah, nyatalah di sana pekerja Roh itu, dan Allah akan menyatakan diri-Nya kepada jiwa itu. Para penyembah yang demikianlah dicari Allah. Ia menanti hendak menerima mereka dan untuk menjadikan anak-anak-Nya.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
27 Oktober 2026 | Hari 3
Hari 3: Pasal 19 - DI SUMUR YAKUB
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 19 - DI SUMUR YAKUB
Halaman 189-190 | Pasal 19, Paragraf 13-18 | KSZ1 189.1-KSZ1 190.3
Ayat Inti:
Yohanes 4:14
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 17 membaca Bab 19: Di Sumur Yakub. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://mail.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-17-hari-3-2026-10-27
Teks Lengkap:
Suatu pun tidak dapat disangkalnya; tetapi ia berusaha mengelakkan semua sebutan tentang sesuatu pokok pembicaraan yang tidak terlalu di-sukai. Dengan rasa hormat yang sungguh, berkatalah ia, “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.” Lalu, dengan berharap hendak mendiamkan keyakinan itu, beralihlah ia kepada pokok-pokok pertentangan agama. Jika ia seorang nabi, sudah tentu Ia dapat memberi-kan kepadanya petunjuk tentang persoalan yang sudah sekian lamanya diperdebatkan . [KSZ1 189.1]
Dengan sabarbya Yesus membiarkan dia menuntun percakapan itu sekehendak hatinya. Sementara itu dinantikan-Nya kesempatan untuk menjelaskan kebenaran itu dalam hatinya “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” Gunung Gerizim nampak dari tempat itu. Bait Sucinya sudah dimusnahkan, dan hanya mezbahnya yang masih ada. Tempat sembahyang itu telah menjadi pokok perbantahan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Beberapa dari nenek moyang bangsa yang dahulu pernah termasuk bangsa Israel; tetapi karena dosa-dosanya, Tuhan mem-biarkan mereka dikalahkan oleh sesuatu bangsa penyembah berhala. Turun temurun mereka bercampur gaul dengan para penyembah berhala, yang agamanya berangsur-angsur menajiskan agama mereka sendiri. Memang mereka percaya bahwa berhala-berhala mereka hanyalah untuk mengingatkan mereka tentang Allah yang hidup, Pemerintah alam se-mesta; namun orang terpengaruh untuk menghormati patung-patung ukiran mereka itu. [KSZ1 189.2]
Ketika Bait Suci di Yerusalem dibangun pada zaman Ezra, bangsa Samaria itu ingin menggabungkan diri dengan bangsa Yahudi dalam pembangunan itu. Kesempatan mulia ini tidak diberikan kepada mereka, dan timbullah perseteruan yang pahit antara kedua bangsa itu. Bangsa Samaria membangun bait suci saingan di Gunung Gerizim. Di sini mereka berbakti sesuai dengan upacara keagamaan Musa, sungguh pun mereka tidak meninggalkan penyembahan berhala seluruhnya. Tetapi malapetaka menimpa mereka, bait suci itu dibinasakan oleh musuhmusuh mereka, dan nampaknya mereka itu seolah-olah terkutuk; namun mereka masih berpaut pada tradisi-tradisi dan upacara-upacara perbaktian mereka. Mereka tidak mau mengakui Bait Suci di Yerusalem itu se-bagai rumah Allah, ataupun mengakui bahwa agama bangsa Yahudi itu lebih unggul daripada agama mereka. [KSZ1 189.3]
Untuk menjawab pertanyaan wanita itu, Yesus berkata, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan me-nyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.” Yesus telah menunjukkan bahwa Ia bebas dari prasangka bangsa Yahudi terhadap bangsa Samaria. Sekarang la berusaha hendak merubuhkan prasangka wanita Samaria itu terhadap orang Yahudi. Sementara menunjuk kepada kenyataan bahwa iman bangsa Samaria sudah dinajiskan oleh penyem-bahan berhala, Ia mengatakan bahwa kebenaran-kebenaran utama tentang penebusan telah diamanatkan kepada bangsa Yahudi, dan bahwa dari antara mereka itulah Mesias akan datang. Dalam Tulisan-tulisan Suci mereka mendapat keterangan yang jelas tentang tabiat Allah dan asas-asas pemerintahan-Nya. Yesus menggolongkan diri-Nya sendiri dengan bangsa Yahudi sebagai bangsa yang telah dikaruniai Allah suatu pengetahuan tentang diri-Nya. [KSZ1 190.1]
Ia ingin mengangkat pikiran para pendengar-Nya di atas soal-soal yang menyangkut tatacara dan upacara belaka, serta soal-soal pertentangan. ‘Tetapi saatnya akan datang,” kata-Nya, “Dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” [KSZ1 190.2]
Di sini dinyatakan kebenaran yang sama yang telah dinyatakan oleh Yesus kepada Nikodemus ketika Ia berkata, “Jika seorang tidak dilahirkan , ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3:3. Bukannya oleh mencari sesuatu gunung yang suci atau sesuatu rumah ibadah yang suci maka manusia dibawa ke dalam persekutuan dengan surga. Agama tidak boleh dibatasi di dalam upacara secara lahir saja. Agama yang berasal dari pada Allah ialah satu-satunya agama yang akan menuntun kepada Allah. Untuk dapat berbakti kepada-Nya dengan benar, kita harus dilahirkan dari Roh Ilahi. Ini akan menyucikan hati serta memperbarui pikiran, memberikan kepada kita suatu kesanggupan yang baru untuk mengenal serta mengasihi Allah. Akan diberikannya kepada kita sebuah penurutan sukarela kepada segala tuntutan-Nya. Inilah perbaktian yang benar. Itulah hasil kerja Roh Kudus. Oleh Roh setiap doa yang sungguh-sungguh disusun, dan doa semacam itu berkenan kepada Allah. Di mana saja suatu jiwa mencari Allah, nyatalah di sana pekerja Roh itu, dan Allah akan menyatakan diri-Nya kepada jiwa itu. Para penyembah yang demikianlah dicari Allah. Ia menanti hendak menerima mereka dan untuk menjadikan anak-anak-Nya. [KSZ1 190.3]