1 Desember 2026 · Hari 3
Hari 3: Pasal 25 - PANGGILAN DI TEPI DANAU
Halaman 255-255 | Pasal 25, Paragraf 7-9 | KSZ1 255.1-KSZ1 255.3
Ayat Inti
Matius 4:19
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 22 membaca Bab 25: Panggilan di Tepi Danau. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 255.1 Malam adalah satu-satunya waktu yang baik untuk mencari ikan dengan jala di dalam air danau yang jemih itu. Setelah bekerja sepanjang malam dengan tidak mendapat suatu apa pun, maka tidak ada gunanya untuk membuang jala pada hari siang; tetapi Yesus telah memberikan perintah dan kasih Tuhan telah menggerakkan hati murid-murid untuk menurut. Simon dan saudaranya bersama-sama menebarkan jala itu. Pada saat mereka berusaha menarik pukat itu ke dalam perahu, oleh karena banyak ikannya, sehingga jala itu pun koyak. Mereka terpaksa memanggil Yakobus dan Yohanes untuk membantu mereka. Apabila tangkapan mereka itu naik ke dalam perahu, karena berat muatannya mereka takut akan tenggelam.
KSZ1 255.2 Tetapi kini Petrus tidak lagi menghiraukan akan perahu dan muatannya. Mukjizat ini melebihi segala sesuatu yang pernah disaksikannya, karena hal ini baginya adalah menjadi suatu kenyataan kuasa Ilahi. Pada wajah Yesus ia telah lihat Seorang yang mengendalikan semesta alam. Hadimya Keilahian-Nya telah menyatakan bahwa ia tidak suci. Cinta bagi Tuhannya, malu akan kurang percayanya, bersyukur akan kerendahan hati Kristus, terlebih pula perasaan akan kecemarannya di hadapan kesucian yang kekal telah mengalahkan dia. Di kala teman-temannya mengeluarkan ikan-ikan dari dalam jala, Petrus jatuh di kaki Juruselamat sambil berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
KSZ1 255.3 Hadirat kesucian Ilahi yang sama yang telah menyebabkan Nabi Daniel rebah sebagai seorang yang mati di hadapan malaikat Allah. “Hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku.” Begitu pula bila Yesaya melihat kemuliaan Tuhan, ia berkata “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.” Daniel 10:8; Yesaya 6:5. Kemanusiaan, dengan kelemahan dan dosanya, telah dibawa berhadapan dengan kesempumaan Ilahi, maka ia jatuh oleh kekurangan dan kecemarannya. Demikian pula jadinya dengan segala orang yang diberikan kesempatan melihat kebesaran dan keagungan Allah.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
1 Desember 2026 | Hari 3
Hari 3: Pasal 25 - PANGGILAN DI TEPI DANAU
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 25 - PANGGILAN DI TEPI DANAU
Halaman 255-255 | Pasal 25, Paragraf 7-9 | KSZ1 255.1-KSZ1 255.3
Ayat Inti:
Matius 4:19
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 22 membaca Bab 25: Panggilan di Tepi Danau. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://mail.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-22-hari-3-2026-12-01
Teks Lengkap:
Malam adalah satu-satunya waktu yang baik untuk mencari ikan dengan jala di dalam air danau yang jemih itu. Setelah bekerja sepanjang malam dengan tidak mendapat suatu apa pun, maka tidak ada gunanya untuk membuang jala pada hari siang; tetapi Yesus telah memberikan perintah dan kasih Tuhan telah menggerakkan hati murid-murid untuk menurut. Simon dan saudaranya bersama-sama menebarkan jala itu. Pada saat mereka berusaha menarik pukat itu ke dalam perahu, oleh karena banyak ikannya, sehingga jala itu pun koyak. Mereka terpaksa memanggil Yakobus dan Yohanes untuk membantu mereka. Apabila tangkapan mereka itu naik ke dalam perahu, karena berat muatannya mereka takut akan tenggelam. [KSZ1 255.1]
Tetapi kini Petrus tidak lagi menghiraukan akan perahu dan muatannya. Mukjizat ini melebihi segala sesuatu yang pernah disaksikannya, karena hal ini baginya adalah menjadi suatu kenyataan kuasa Ilahi. Pada wajah Yesus ia telah lihat Seorang yang mengendalikan semesta alam. Hadimya Keilahian-Nya telah menyatakan bahwa ia tidak suci. Cinta bagi Tuhannya, malu akan kurang percayanya, bersyukur akan kerendahan hati Kristus, terlebih pula perasaan akan kecemarannya di hadapan kesucian yang kekal telah mengalahkan dia. Di kala teman-temannya mengeluarkan ikan-ikan dari dalam jala, Petrus jatuh di kaki Juruselamat sambil berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” [KSZ1 255.2]
Hadirat kesucian Ilahi yang sama yang telah menyebabkan Nabi Daniel rebah sebagai seorang yang mati di hadapan malaikat Allah. “Hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku.” Begitu pula bila Yesaya melihat kemuliaan Tuhan, ia berkata “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.” Daniel 10:8; Yesaya 6:5. Kemanusiaan, dengan kelemahan dan dosanya, telah dibawa berhadapan dengan kesempumaan Ilahi, maka ia jatuh oleh kekurangan dan kecemarannya. Demikian pula jadinya dengan segala orang yang diberikan kesempatan melihat kebesaran dan keagungan Allah. [KSZ1 255.3]