9 Februari 2027 · Hari 3
Hari 3: Pasal 35 - “DIAM, TENANGLAH”
Halaman 360-361 | Pasal 35, Paragraf 11-15 | KSZ1 360.4-KSZ1 361.2
Ayat Inti
Markus 4:39
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 32 membaca Bab 35: Diam, Tenanglah. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 360.4 Belum pernah ada suatu jiwa yang berseru-seru dilalaikan. Ketika murid-murid itu mendayung dengan usaha yang terakhir, Yesus pun ba-ngunlah. Ia berdiri di tengah-tengah murid-murid-Nya, sementara badai mengamuk, ombak memukul mereka, dan sinar terang menerangi wajah-Nya. Ia mengangkat tangan-Nya, sebagaimana biasa dilakukan untuk mendatangkan kemurahan, serta berseru kepada angin ribut: “Diam, Tenanglah!”
KSZ1 360.5 Badai segera berhenti. Gulungan ombak pun berhenti. Kabut gelap berlalu, lalu bintang-bintang menyinarkan cahayanya. Perahu mengapung di atas danau yang tenang. Kemudian Yesus menoleh kepada murid-murid-Nya, serta bertanya dengan amat sedih: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Markus 4:40.
KSZ1 360.6 Murid-murid itu terdiam. Petrus sendiri pun tidak berusaha menyatakan kedahsyatan yang mengisi hatinya. Perahu-perahu yang turut mengikuti Yesus juga mengalami bahaya yang serupa dengan murid-murid itu. Takut dan putus harap mencekam mereka, tetapi perintah Yesus meneduhkan badai itu. Puncak gelombang telah memukul perahu-perahu itu begitu dekatnya, dan semua yang ada di dalam perahu melihat mukjizat itu. Setelah semuanya teduh, rasa takut pun hilanglah. Orangorang itu berkata satu sama lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”
KSZ1 361.1 Apabila Yesus dibangunkan untuk menghadapi angin ribut itu, Ia benar-benar dalam keadaan damai. Tidak ada gambaran takut dalam perkataan atau pandangan-Nya, karena tidak ada takut di dalam hatiNya. Tetapi Ia bersandar bukan pada kekuasaan-Nya yang mahaperkasa. Bukan sebagai “Yang berkuasa di dunia serta laut dan langit” Ia mendiamkannya. Kuasa yang telah diletakkan-Nya berkata: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri.” Yohanes 5:30. Ia berharap pada kuasa Bapa. Di dalam iman-iman dalam kasih dan penjagaan Allah— Yesus berharap, dan kuasa firman yang mendiamkan angin ribut adalah kuasa Allah. Sebagaimana Yesus bersandar oleh iman pada penjagaan Bapa, demikian pula kita harus bersandar pada penjagaan Juruselamat kita. Jikalau murid-murid itu berharap kepada-Nya, mereka pasti akan mendapat sentosa. Ketakutan mereka saat menghadapi bahaya menunjukkan mereka kurang percaya. Dalam usaha mereka menyelamatkan diri, mereka melupakan Yesus; dan hanyalah pada waktu mereka berada dalam putus harap dan tiada berdaya lagi, barulah mereka memandang kepada-Nya karena Ia dapat memberikan pertolongan kepada mereka.
KSZ1 361.2 Betapa sering pengalaman murid-murid itu merupakan pengalaman kita juga! Jika badai pencobaan bertubi-tubi, dan kilat yang hebat menyambar serta gelombang memukul kita, kita berjuang melawan badai itu sendirian, lupa bahwa ada Seorang yang dapat menolong kita. Kita berharap pada kekuatan kita sendiri sampai pengharapan kita lenyap, dan kita hampir binasa. Kemudian kita teringat akan Yesus, dan jikalau kita memanggil Dia untuk menyelamatkan kita, kita tidak akan meratap dengan sia-sia. Walaupun dengan sedih menegur kurang percaya dan ketergantungan kita terhadap diri sendiri, Ia tidak pernah gagal untuk memberikan pertolongan yang kita perlukan. Di darat atau di lautan, jikalau kita mempunyai Juruselamat di dalam hati kita, tidak perlu ada kekhawatiran Iman yang hidup di dalam Penebus akan menenangkan laut kehidupan serta akan melepaskan kita dari marabahaya di dalam cara yang menurut pengetahuan-Nya adalah yang terbaik.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
9 Februari 2027 | Hari 3
Hari 3: Pasal 35 - “DIAM, TENANGLAH”
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 35 - “DIAM, TENANGLAH”
Halaman 360-361 | Pasal 35, Paragraf 11-15 | KSZ1 360.4-KSZ1 361.2
Ayat Inti:
Markus 4:39
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 32 membaca Bab 35: Diam, Tenanglah. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://mail.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-32-hari-3-2027-02-09
Teks Lengkap:
Belum pernah ada suatu jiwa yang berseru-seru dilalaikan. Ketika murid-murid itu mendayung dengan usaha yang terakhir, Yesus pun ba-ngunlah. Ia berdiri di tengah-tengah murid-murid-Nya, sementara badai mengamuk, ombak memukul mereka, dan sinar terang menerangi wajah-Nya. Ia mengangkat tangan-Nya, sebagaimana biasa dilakukan untuk mendatangkan kemurahan, serta berseru kepada angin ribut: “Diam, Tenanglah!” [KSZ1 360.4]
Badai segera berhenti. Gulungan ombak pun berhenti. Kabut gelap berlalu, lalu bintang-bintang menyinarkan cahayanya. Perahu mengapung di atas danau yang tenang. Kemudian Yesus menoleh kepada murid-murid-Nya, serta bertanya dengan amat sedih: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Markus 4:40. [KSZ1 360.5]
Murid-murid itu terdiam. Petrus sendiri pun tidak berusaha menyatakan kedahsyatan yang mengisi hatinya. Perahu-perahu yang turut mengikuti Yesus juga mengalami bahaya yang serupa dengan murid-murid itu. Takut dan putus harap mencekam mereka, tetapi perintah Yesus meneduhkan badai itu. Puncak gelombang telah memukul perahu-perahu itu begitu dekatnya, dan semua yang ada di dalam perahu melihat mukjizat itu. Setelah semuanya teduh, rasa takut pun hilanglah. Orangorang itu berkata satu sama lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” [KSZ1 360.6]
Apabila Yesus dibangunkan untuk menghadapi angin ribut itu, Ia benar-benar dalam keadaan damai. Tidak ada gambaran takut dalam perkataan atau pandangan-Nya, karena tidak ada takut di dalam hatiNya. Tetapi Ia bersandar bukan pada kekuasaan-Nya yang mahaperkasa. Bukan sebagai “Yang berkuasa di dunia serta laut dan langit” Ia mendiamkannya. Kuasa yang telah diletakkan-Nya berkata: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri.” Yohanes 5:30. Ia berharap pada kuasa Bapa. Di dalam iman-iman dalam kasih dan penjagaan Allah— Yesus berharap, dan kuasa firman yang mendiamkan angin ribut adalah kuasa Allah. Sebagaimana Yesus bersandar oleh iman pada penjagaan Bapa, demikian pula kita harus bersandar pada penjagaan Juruselamat kita. Jikalau murid-murid itu berharap kepada-Nya, mereka pasti akan mendapat sentosa. Ketakutan mereka saat menghadapi bahaya menunjukkan mereka kurang percaya. Dalam usaha mereka menyelamatkan diri, mereka melupakan Yesus; dan hanyalah pada waktu mereka berada dalam putus harap dan tiada berdaya lagi, barulah mereka memandang kepada-Nya karena Ia dapat memberikan pertolongan kepada mereka. [KSZ1 361.1]
Betapa sering pengalaman murid-murid itu merupakan pengalaman kita juga! Jika badai pencobaan bertubi-tubi, dan kilat yang hebat menyambar serta gelombang memukul kita, kita berjuang melawan badai itu sendirian, lupa bahwa ada Seorang yang dapat menolong kita. Kita berharap pada kekuatan kita sendiri sampai pengharapan kita lenyap, dan kita hampir binasa. Kemudian kita teringat akan Yesus, dan jikalau kita memanggil Dia untuk menyelamatkan kita, kita tidak akan meratap dengan sia-sia. Walaupun dengan sedih menegur kurang percaya dan ketergantungan kita terhadap diri sendiri, Ia tidak pernah gagal untuk memberikan pertolongan yang kita perlukan. Di darat atau di lautan, jikalau kita mempunyai Juruselamat di dalam hati kita, tidak perlu ada kekhawatiran Iman yang hidup di dalam Penebus akan menenangkan laut kehidupan serta akan melepaskan kita dari marabahaya di dalam cara yang menurut pengetahuan-Nya adalah yang terbaik. [KSZ1 361.2]