Hari 2: Pasal 41 - KRISIS DI GALILEA
22 Maret 2027 · Hari 2

Hari 2: Pasal 41 - KRISIS DI GALILEA

Halaman 416-417 | Pasal 41, Paragraf 9-15 | KSZ1 416.1-KSZ1 417.3

Ayat Inti

Yohanes 6:68

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 38 membaca Bab 41: Krisis di Galilea. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 416.1 Sekarang, dengan setengah mengejek, seorang rabi bertanya Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun seperti ada tertulis. Mereka diberi-Nya makan roti dari Surga.”

KSZ1 416.2 Orang Yahudi menghormati Musa, sebagai si pemberi manna, mem-berikan pujian kepada perantara, dan melupakan Dia yang oleh-Nya pe-kerjaan telah dilaksanakan. Nenek moyang mereka bersungut kepada Musa, serta meragukan dan menyangkal tugas Ilahinya. Sekarang dalam roh yang sama keturunan mereka menolak Seorang yang menyampaikan pekabaran Allah kepada mereka. Maka kata Yesus kepada mereka itu, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari Surga.” Si Pemberi manna sedang berdiri di tengah-tengah mereka. Kristuslah yang telah memimpin orang Ibrani melalui padang gurun, dan memberi makan kepada mereka setiap hari dengan roti dari surga. Makanan itu melambangkan roti yang sebenarnya dari surga. Roh yang memberi hidup, yang mengalir dari kepenuhan Allah yang tidak terbatas, ialah manna yang benar. Yesus berkata, Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Yoh. 6:33.

KSZ1 416.3 Masih dalam keadaan memikirkan bahwa makanan jasmanilah yang dimaksudkan Yesus, beberapa dari para pendengarnya berseru, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kemudian Yesus berkata dengan jelas, “Akulah roti hidup.”

KSZ1 416.4 Kiasan yang digunakan Yesus sudah lazim bagi orang Yahudi. Musa, dengan ilham Roh Kudus, berkata. “Bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan.” Dan Nabi Yeremia menulis, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku.” UI. 8:3; Yer. 15:16. Rabi-rabi sendiri mempunyai pemahaman, bahwa makan roti, dalam makna roha-ninya, adalah pelajaran tentang hukum dan kebiasaan perbuatan baik; dan sering dikatakan bahwa bila Mesias datang segenap Israel akan diberi makan. Ajaran nabi-nabi menjelaskan pelajaran rohani yang mendalam mengenai mukjizat roti. Pelajaran inilah yang hendak dipaparkan Kristus kepada para pendengar-Nya di rumah ibadah. Sekiranya mereka telah mengerti akan Kitab Suci, sudah tentu mereka mengerti perkataanNya ketika Ia berkata, “Akulah roti hidup.” Baru saja sehari yang lampau orang banyak, yang sudah lemah dan lelah, diberi makan dengan roti yang diberikan-Nya. Sebagaimana dari roti itu mereka mendapat kekuatan dan kesegaran jasmani, demikian juga dari Kristus mereka dapat memperoleh kekuatan rohani menuju hidup kekal. “Barangsiapa datang kepada-Ku” kata-Nya, “ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Tetapi Ia menambahkan, “Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.”

KSZ1 417.1 Mereka telah melihat Kristus dengan kesaksian Roh Kudus, dengan penyataan Allah kepada jiwa mereka. Bukti-bukti yang hidup mengenai kuasa-Nya sudah mereka saksikan dari hari ke hari, namun mereka masih minta tanda lain. Jika mereka tidak diyakinkan dengan apa yang sudah mereka lihat dan dengar, tidak ada gunanya menunjukkan lebih banyak perbuatan ajaib kepada mereka. Sifat tidak percaya selamanya mencari dalih untuk meragukan, dan tidak akan menerima bukti yang paling pasti.

KSZ1 417.2 Sekali lagi Kristus berseru ke hati yang degil. “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Ia mengatakan bahwa semua orang yang menerima Dia dalam iman, akan mendapat hidup kekal. Tidak se-orang pun akan hilang. Tidak perlu orang Farisi dan orang Saduki mem-pertengkarkan dari hal kehidupan masa depan. “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya, beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”

KSZ1 417.3 Tetapi para pemimpin orang banyak itu merasa sakit hati, “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari surga? ” Mereka berusaha membangkitkan prasangka dengan menyinggung secara mengejek tentang asal usul Yesus yang hina itu. Dengan sikap memandang rendah mereka menyindir tentang kehidupan-Nya sebagai seorang pekerja Galilea, serta tentang keluarga-Nya yang miskin dan hina. Mereka mengatakan bahwa tuntutan tukang kayu yang tidak terdidik ini tidak layak diperhatikan. Dan karena kelahiran-Nya yang gaib itu, mereka menyindir bahwa Ia berasal dari keturunan yang diragukan, dengan demikian menggambarkan keadaan kelahiran-Nya secara manusia sebagai suatu noda dalam seiran hidup-Nya.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

22 Maret 2027 | Hari 2
Hari 2: Pasal 41 - KRISIS DI GALILEA

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 41 - KRISIS DI GALILEA
Halaman 416-417 | Pasal 41, Paragraf 9-15 | KSZ1 416.1-KSZ1 417.3

Ayat Inti:
Yohanes 6:68
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 38 membaca Bab 41: Krisis di Galilea. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://mail.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-38-hari-2-2027-03-22

Teks Lengkap:

Sekarang, dengan setengah mengejek, seorang rabi bertanya Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun seperti ada tertulis. Mereka diberi-Nya makan roti dari Surga.” [KSZ1 416.1]

Orang Yahudi menghormati Musa, sebagai si pemberi manna, mem-berikan pujian kepada perantara, dan melupakan Dia yang oleh-Nya pe-kerjaan telah dilaksanakan. Nenek moyang mereka bersungut kepada Musa, serta meragukan dan menyangkal tugas Ilahinya. Sekarang dalam roh yang sama keturunan mereka menolak Seorang yang menyampaikan pekabaran Allah kepada mereka. Maka kata Yesus kepada mereka itu, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari Surga.” Si Pemberi manna sedang berdiri di tengah-tengah mereka. Kristuslah yang telah memimpin orang Ibrani melalui padang gurun, dan memberi makan kepada mereka setiap hari dengan roti dari surga. Makanan itu melambangkan roti yang sebenarnya dari surga. Roh yang memberi hidup, yang mengalir dari kepenuhan Allah yang tidak terbatas, ialah manna yang benar. Yesus berkata, Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Yoh. 6:33. [KSZ1 416.2]

Masih dalam keadaan memikirkan bahwa makanan jasmanilah yang dimaksudkan Yesus, beberapa dari para pendengarnya berseru, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kemudian Yesus berkata dengan jelas, “Akulah roti hidup.” [KSZ1 416.3]

Kiasan yang digunakan Yesus sudah lazim bagi orang Yahudi. Musa, dengan ilham Roh Kudus, berkata. “Bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan.” Dan Nabi Yeremia menulis, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku.” UI. 8:3; Yer. 15:16. Rabi-rabi sendiri mempunyai pemahaman, bahwa makan roti, dalam makna roha-ninya, adalah pelajaran tentang hukum dan kebiasaan perbuatan baik; dan sering dikatakan bahwa bila Mesias datang segenap Israel akan diberi makan. Ajaran nabi-nabi menjelaskan pelajaran rohani yang mendalam mengenai mukjizat roti. Pelajaran inilah yang hendak dipaparkan Kristus kepada para pendengar-Nya di rumah ibadah. Sekiranya mereka telah mengerti akan Kitab Suci, sudah tentu mereka mengerti perkataanNya ketika Ia berkata, “Akulah roti hidup.” Baru saja sehari yang lampau orang banyak, yang sudah lemah dan lelah, diberi makan dengan roti yang diberikan-Nya. Sebagaimana dari roti itu mereka mendapat kekuatan dan kesegaran jasmani, demikian juga dari Kristus mereka dapat memperoleh kekuatan rohani menuju hidup kekal. “Barangsiapa datang kepada-Ku” kata-Nya, “ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Tetapi Ia menambahkan, “Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.” [KSZ1 416.4]

Mereka telah melihat Kristus dengan kesaksian Roh Kudus, dengan penyataan Allah kepada jiwa mereka. Bukti-bukti yang hidup mengenai kuasa-Nya sudah mereka saksikan dari hari ke hari, namun mereka masih minta tanda lain. Jika mereka tidak diyakinkan dengan apa yang sudah mereka lihat dan dengar, tidak ada gunanya menunjukkan lebih banyak perbuatan ajaib kepada mereka. Sifat tidak percaya selamanya mencari dalih untuk meragukan, dan tidak akan menerima bukti yang paling pasti. [KSZ1 417.1]

Sekali lagi Kristus berseru ke hati yang degil. “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Ia mengatakan bahwa semua orang yang menerima Dia dalam iman, akan mendapat hidup kekal. Tidak se-orang pun akan hilang. Tidak perlu orang Farisi dan orang Saduki mem-pertengkarkan dari hal kehidupan masa depan. “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya, beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” [KSZ1 417.2]

Tetapi para pemimpin orang banyak itu merasa sakit hati, “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari surga? ” Mereka berusaha membangkitkan prasangka dengan menyinggung secara mengejek tentang asal usul Yesus yang hina itu. Dengan sikap memandang rendah mereka menyindir tentang kehidupan-Nya sebagai seorang pekerja Galilea, serta tentang keluarga-Nya yang miskin dan hina. Mereka mengatakan bahwa tuntutan tukang kayu yang tidak terdidik ini tidak layak diperhatikan. Dan karena kelahiran-Nya yang gaib itu, mereka menyindir bahwa Ia berasal dari keturunan yang diragukan, dengan demikian menggambarkan keadaan kelahiran-Nya secara manusia sebagai suatu noda dalam seiran hidup-Nya. [KSZ1 417.3]