29 Juli 2026 · Hari 4
Hari 4: Pasal 6 - “KAMI MELIHAT BINTANGNYA”
Halaman 53-54 | Pasal 6, Paragraf 13-16 | KSZ1 53.1-KSZ1 54.2
Ayat Inti
Matius 2:2
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 4 membaca Bab 6: Kami Melihat Bintangnya. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 53.1 Imam-imam dan tua-tua Yerusalem sebenarnya bukanlah tidak mengetahui hal kelahiran Kristus itu sebagaimana yang mereka pura-pura buat. Laporan tentang kunjungan malaikat-malaikat kepada gembalagembala itu sudah dibawa ke Yerusalem, tetapi rabi-rabi telah memperlakukannya seperti sesuatu hal yang tidak layak mendapat perhatian mereka. Mereka sendiri boleh jadi sudah akan mendapat Yesus dan mungkin sudah akan siap untuk memimpin orang Majus itu ke tempat kelahiranNya; tetapi sebaliknya, orang Majus itulah yang datang untuk menarik perhatian mereka kepada kelahiran Mesias. “Di mana Raja orang Yahudi yang dilahirkan itu?” tanya mereka; “kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
KSZ1 53.2 Sekarang kesombongan dan iri hati menutup pintu terhadap terang. Sekiranya segala laporan yang dibawa oleh gembala-gembala dan orang Majus itu diakui, maka akan ditempatkannyalah imam-imam dan rabirabi itu dalam suatu kedudukan yang paling tidak disukai, membatalkan pengakuan mereka sebagai ahli tafsir kebenaran Allah. Guru-guru yang terpelajar ini tidak mau merendahkan hati untuk diberi petunjuk oleh orang-orang yang mereka sebut kafir. Mustahil, kata mereka, Allah sudah melampaui mereka, untuk berhubungan dengan gembala-gembala yang tidak tahu apa-apa atau dengan orang kafir yang tidak disunat. Mereka bertekad untuk menunjukkan hinaan terhadap laporan yang tengah mengharukan Raja Herodes dan seluruh kota Yerusalem. Malahan mereka tidak mau pergi ke Betlehem untuk melihat kalau segala perkara ini demikian halnya. Dan mereka menuntun orang banyak untuk menganggap perhatian kepada Yesus sebagai suatu kehebohan yang mengandung anasir kefanatikan. Di sinilah mulai terjadi penolakan terhadap Kristus oleh imam-imam dan rabi-rabi. Dari titik ini kesombongan serta kedegilan mereka pun tumbuhlah hingga menjadi kebencian yang tetap terhadap Juruselamat. Sementara Allah membuka pintu bagi orang kafir, para pemimpin Yahudi sedang menutup pintu bagi mereka sendiri.
KSZ1 54.1 Orang Majus itu berangkat sendiri dari Yerusalem. Malam sudah tiba tatkala mereka meninggalkan pintu gerbangnya, tetapi dengan kesukaan besar mereka melihat bintang itu pula, dan mereka ditujukan ke Betlehem. Mereka tiada menerima pemberitahuan lebih dahulu tentang keadaan Yesus yang hina sebagaimana yang telah diberikan kepada gembala-gembala itu. Sesudah berjalan begitu jauh mereka dikecewakan oleh sikap masa bodoh di pihak para pemimpin Yahudi, dan telah meninggalkan Yerusalem dengan keyakinan yang kurang besarnya daripada keyakinan ketika mereka masuk ke dalam kota itu. Di Betlehem mereka tidak menjumpai pengawal kerajaan yang ditempatkan guna menjaga Raja yang baru lahir itu. Tidak ada orang terhormat dunia ini hadir di situ. Yesus terbaring dalam sebuah palungan. Hanya orangtuNya, petani biasa yang tidak berpendidikan, yang mengawal Dia. Mungkinkah ini gerangan Dia yang tentang Dia tersurat, bahwa Ia harus “menegakkan segala suku Yakub,” dan “membaiki pula segala pucuk Israel;” bahwa Ia harus menjadi “suatu terang bagi segala orang kafir,” dan menjadi “keselamatan ... sampai kepada ujung bumi?”
KSZ1 54.2 “Ketika mereka masuk ke dalam rumah, mereka melihat Anak Kecjl itu bersama dengan Maria, ibu-Nya, maka sujudlah mereka menyembah Dia.” Dalam penyamaran Yesus yang hina, mereka merasakan hadirat Ilahi. Mereka menyerahkan hati kepada-Nya selaku Juruselamat mereka, lalu mempersembahkan pemberian mereka,— “emas dan kemenyan dan mur.” Betapa ajaibnya iman mereka itu! Mungkin dapat dikatakan mengenai orang Majus yang dari Timur itu, sebagaimana yang kemudian dikatakan tentang penghulu laskar Romawi, “Di antara orang Israel juga belum pernah Kudapat iman sepertih ini.” Orang Majus itu belum menyelami rencana Herodes terhadap diri Yesus. Setelah maksud perjalanan mereka tercapai, mereka bersiap-siap untuk ke Yerusalem, bermaksud hendak memberitahukan kepadanya hasil perjalanan mereka itu. Akan tetapi dalam sebuah mimpi mereka mendapat sebuah kabar Ilahi yang menasihatkan supaya jangan lagi mengadakan hubungan lebih lanjut dengan dia. Dengan menghindari Yerusalem, berangkatlah mereka ke negerinya melalui suatu jalan lain.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
29 Juli 2026 | Hari 4
Hari 4: Pasal 6 - “KAMI MELIHAT BINTANGNYA”
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 6 - “KAMI MELIHAT BINTANGNYA”
Halaman 53-54 | Pasal 6, Paragraf 13-16 | KSZ1 53.1-KSZ1 54.2
Ayat Inti:
Matius 2:2
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 4 membaca Bab 6: Kami Melihat Bintangnya. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://mail.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-4-hari-4-2026-07-29
Teks Lengkap:
Imam-imam dan tua-tua Yerusalem sebenarnya bukanlah tidak mengetahui hal kelahiran Kristus itu sebagaimana yang mereka pura-pura buat. Laporan tentang kunjungan malaikat-malaikat kepada gembalagembala itu sudah dibawa ke Yerusalem, tetapi rabi-rabi telah memperlakukannya seperti sesuatu hal yang tidak layak mendapat perhatian mereka. Mereka sendiri boleh jadi sudah akan mendapat Yesus dan mungkin sudah akan siap untuk memimpin orang Majus itu ke tempat kelahiranNya; tetapi sebaliknya, orang Majus itulah yang datang untuk menarik perhatian mereka kepada kelahiran Mesias. “Di mana Raja orang Yahudi yang dilahirkan itu?” tanya mereka; “kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” [KSZ1 53.1]
Sekarang kesombongan dan iri hati menutup pintu terhadap terang. Sekiranya segala laporan yang dibawa oleh gembala-gembala dan orang Majus itu diakui, maka akan ditempatkannyalah imam-imam dan rabirabi itu dalam suatu kedudukan yang paling tidak disukai, membatalkan pengakuan mereka sebagai ahli tafsir kebenaran Allah. Guru-guru yang terpelajar ini tidak mau merendahkan hati untuk diberi petunjuk oleh orang-orang yang mereka sebut kafir. Mustahil, kata mereka, Allah sudah melampaui mereka, untuk berhubungan dengan gembala-gembala yang tidak tahu apa-apa atau dengan orang kafir yang tidak disunat. Mereka bertekad untuk menunjukkan hinaan terhadap laporan yang tengah mengharukan Raja Herodes dan seluruh kota Yerusalem. Malahan mereka tidak mau pergi ke Betlehem untuk melihat kalau segala perkara ini demikian halnya. Dan mereka menuntun orang banyak untuk menganggap perhatian kepada Yesus sebagai suatu kehebohan yang mengandung anasir kefanatikan. Di sinilah mulai terjadi penolakan terhadap Kristus oleh imam-imam dan rabi-rabi. Dari titik ini kesombongan serta kedegilan mereka pun tumbuhlah hingga menjadi kebencian yang tetap terhadap Juruselamat. Sementara Allah membuka pintu bagi orang kafir, para pemimpin Yahudi sedang menutup pintu bagi mereka sendiri. [KSZ1 53.2]
Orang Majus itu berangkat sendiri dari Yerusalem. Malam sudah tiba tatkala mereka meninggalkan pintu gerbangnya, tetapi dengan kesukaan besar mereka melihat bintang itu pula, dan mereka ditujukan ke Betlehem. Mereka tiada menerima pemberitahuan lebih dahulu tentang keadaan Yesus yang hina sebagaimana yang telah diberikan kepada gembala-gembala itu. Sesudah berjalan begitu jauh mereka dikecewakan oleh sikap masa bodoh di pihak para pemimpin Yahudi, dan telah meninggalkan Yerusalem dengan keyakinan yang kurang besarnya daripada keyakinan ketika mereka masuk ke dalam kota itu. Di Betlehem mereka tidak menjumpai pengawal kerajaan yang ditempatkan guna menjaga Raja yang baru lahir itu. Tidak ada orang terhormat dunia ini hadir di situ. Yesus terbaring dalam sebuah palungan. Hanya orangtuNya, petani biasa yang tidak berpendidikan, yang mengawal Dia. Mungkinkah ini gerangan Dia yang tentang Dia tersurat, bahwa Ia harus “menegakkan segala suku Yakub,” dan “membaiki pula segala pucuk Israel;” bahwa Ia harus menjadi “suatu terang bagi segala orang kafir,” dan menjadi “keselamatan ... sampai kepada ujung bumi?” [KSZ1 54.1]
“Ketika mereka masuk ke dalam rumah, mereka melihat Anak Kecjl itu bersama dengan Maria, ibu-Nya, maka sujudlah mereka menyembah Dia.” Dalam penyamaran Yesus yang hina, mereka merasakan hadirat Ilahi. Mereka menyerahkan hati kepada-Nya selaku Juruselamat mereka, lalu mempersembahkan pemberian mereka,— “emas dan kemenyan dan mur.” Betapa ajaibnya iman mereka itu! Mungkin dapat dikatakan mengenai orang Majus yang dari Timur itu, sebagaimana yang kemudian dikatakan tentang penghulu laskar Romawi, “Di antara orang Israel juga belum pernah Kudapat iman sepertih ini.” Orang Majus itu belum menyelami rencana Herodes terhadap diri Yesus. Setelah maksud perjalanan mereka tercapai, mereka bersiap-siap untuk ke Yerusalem, bermaksud hendak memberitahukan kepadanya hasil perjalanan mereka itu. Akan tetapi dalam sebuah mimpi mereka mendapat sebuah kabar Ilahi yang menasihatkan supaya jangan lagi mengadakan hubungan lebih lanjut dengan dia. Dengan menghindari Yerusalem, berangkatlah mereka ke negerinya melalui suatu jalan lain. [KSZ1 54.2]