23 Agustus 2026 · Hari 1
Hari 1: Pasal 10 - SUARA DI PADANG BELANTARA
Halaman 87-89 | Pasal 10, Paragraf 1-7 | KSZ1 87.1-KSZ1 89.1
Ayat Inti
Yohanes 1:23
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 8 membaca Bab 10: Suara di Padang Belantara. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 87.1 DARI antara orang-orang yang setia di kalangan orang Israel, yang telah lama menantikan kedatangan Mesias, bangkitlah sang pelopor bagi Kristus. Imam Zakharia yang sudah tua dan istrinya Elisabet “keduanya ... adalah benar dihadapan Allah;” dan dalam hidup mereka yang tenang dan suci cahaya iman bersinar seperti sebuah bintang dalam kegelapan hari-hari yang penuh kejahatan itu. Kepada suami istri yang beribadah ini telah dijanjikan seorang anak laki-laki, yang akan “berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya.”
KSZ1 87.2 Zakharia tinggal “di seluruh pegunungan Yudea,” tetapi ia telah pergi ke Yerusalem untuk bekerja seminggu lamanya dalam Bait Suci, suatu kewajiban yang dituntut dua kali setahun dari imam-imam menurut gilirannya. “Pada suatu hari, waktu giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimamatan di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.”
KSZ1 87.3 Ia sedang berdiri di muka mezbah keemasan di dalam bilik yang suci di Bait Suci. Asap dupa bersama doa bangsa Israel sedang naik di hadirat Allah. Tiba-tiba sadarlah ia akan hadirat Ilahi. Seorang malaikat Tuhan “berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.” Tempat malaikat itu berdiri adalah sebuah penunjuk bahwa ia membawa kabar baik, tetapi Zakharia tidak menghiraukan hal ini. Bertahun-tahun lamanya ia telah mendoakan kedatangan Penebus; kini surga mengutus pesuruhnya untuk memberitahukan bahwa doa itu sudah hampir dijawab; akan tetapi kemurahan Allah tampaknya terlalu besar baginya untuk dipercaya. Ia dipenuhi dengan ketakutan dan penyesalan diri.
KSZ1 88.1 Tetapi ia disapa dengan jaminan yang menggembirakan hati: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elizabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus. ... Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapabapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya. Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya”
KSZ1 88.2 Zakharia tahu betul bagaimana kepada Abraham di masa tuanya telah dikaruniakan seorang anak sebab ia percaya bahwa Ia yang telah berjanji itu setia adanya. Tetapi seketika lamanya imam yang sudah tua itu mengalihkan pikirannya ke arah kelemahan kemanusiaan. Ia lupa bahwa apa yang telah dijanjikan Allah, Ia sanggup melaksanakannya. Alangkah besarnya perbedaan antara sifat kurang percaya ini dengan iman yang polos dan indah dari mana gadis Nazaret itu, yang jawabnya terhadap pemberitahuan ajaib dari malaikat itu ialah, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Luk. 1:38.
KSZ1 88.3 Lahirnya seorang anak bagi Zakharia, seperti juga lahirnya anak Abraham, dan anak Maria, haruslah mengajarkan suatu kebenaran rohani yang besar, suatu kebenaran yang tidak gampang kita pelajari dan lekas melupakannya. Dalam diri kita sendiri, kita tidak sanggup berbuat sesuatu perkara yang baik; tetapi apa yang tidak dapat kita perbuat, akan terjadi oleh kuasa Allah dalam tiap-tiap jiwa yang menyerah dan percaya. Oleh percayalah anak perjanjian dikaruniakan. Oleh iman pula hidup kerohanian dilahirkan dan kita disanggupkan untuk melakukan pekerjaan kebenaran.
KSZ1 89.1 Untuk menjawab pertanyaan Zakharia, malaikat itu berkata, “Akulah Gabriel yang .melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.” Lima ratus tahun , Gabriel sudah memberi tahu kepada Nabi Daniel masa nubuatan yang berlangsung hingga kedatangan Kristus. Pengetahuan bahwa akhir masa ini sudah dekat, telah menggerakkan Zakharia untuk mendoakan kedatangan Mesias itu. Kini justru utusan yang telah menyampaikan nubuatan itu, sudah datang untuk mengumumkan kegenapannya.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
23 Agustus 2026 | Hari 1
Hari 1: Pasal 10 - SUARA DI PADANG BELANTARA
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 10 - SUARA DI PADANG BELANTARA
Halaman 87-89 | Pasal 10, Paragraf 1-7 | KSZ1 87.1-KSZ1 89.1
Ayat Inti:
Yohanes 1:23
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 8 membaca Bab 10: Suara di Padang Belantara. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://mail.onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-8-hari-1-2026-08-23
Teks Lengkap:
DARI antara orang-orang yang setia di kalangan orang Israel, yang telah lama menantikan kedatangan Mesias, bangkitlah sang pelopor bagi Kristus. Imam Zakharia yang sudah tua dan istrinya Elisabet “keduanya ... adalah benar dihadapan Allah;” dan dalam hidup mereka yang tenang dan suci cahaya iman bersinar seperti sebuah bintang dalam kegelapan hari-hari yang penuh kejahatan itu. Kepada suami istri yang beribadah ini telah dijanjikan seorang anak laki-laki, yang akan “berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya.” [KSZ1 87.1]
Zakharia tinggal “di seluruh pegunungan Yudea,” tetapi ia telah pergi ke Yerusalem untuk bekerja seminggu lamanya dalam Bait Suci, suatu kewajiban yang dituntut dua kali setahun dari imam-imam menurut gilirannya. “Pada suatu hari, waktu giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimamatan di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.” [KSZ1 87.2]
Ia sedang berdiri di muka mezbah keemasan di dalam bilik yang suci di Bait Suci. Asap dupa bersama doa bangsa Israel sedang naik di hadirat Allah. Tiba-tiba sadarlah ia akan hadirat Ilahi. Seorang malaikat Tuhan “berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.” Tempat malaikat itu berdiri adalah sebuah penunjuk bahwa ia membawa kabar baik, tetapi Zakharia tidak menghiraukan hal ini. Bertahun-tahun lamanya ia telah mendoakan kedatangan Penebus; kini surga mengutus pesuruhnya untuk memberitahukan bahwa doa itu sudah hampir dijawab; akan tetapi kemurahan Allah tampaknya terlalu besar baginya untuk dipercaya. Ia dipenuhi dengan ketakutan dan penyesalan diri. [KSZ1 87.3]
Tetapi ia disapa dengan jaminan yang menggembirakan hati: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elizabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus. ... Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapabapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya. Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya” [KSZ1 88.1]
Zakharia tahu betul bagaimana kepada Abraham di masa tuanya telah dikaruniakan seorang anak sebab ia percaya bahwa Ia yang telah berjanji itu setia adanya. Tetapi seketika lamanya imam yang sudah tua itu mengalihkan pikirannya ke arah kelemahan kemanusiaan. Ia lupa bahwa apa yang telah dijanjikan Allah, Ia sanggup melaksanakannya. Alangkah besarnya perbedaan antara sifat kurang percaya ini dengan iman yang polos dan indah dari mana gadis Nazaret itu, yang jawabnya terhadap pemberitahuan ajaib dari malaikat itu ialah, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Luk. 1:38. [KSZ1 88.2]
Lahirnya seorang anak bagi Zakharia, seperti juga lahirnya anak Abraham, dan anak Maria, haruslah mengajarkan suatu kebenaran rohani yang besar, suatu kebenaran yang tidak gampang kita pelajari dan lekas melupakannya. Dalam diri kita sendiri, kita tidak sanggup berbuat sesuatu perkara yang baik; tetapi apa yang tidak dapat kita perbuat, akan terjadi oleh kuasa Allah dalam tiap-tiap jiwa yang menyerah dan percaya. Oleh percayalah anak perjanjian dikaruniakan. Oleh iman pula hidup kerohanian dilahirkan dan kita disanggupkan untuk melakukan pekerjaan kebenaran. [KSZ1 88.3]
Untuk menjawab pertanyaan Zakharia, malaikat itu berkata, “Akulah Gabriel yang .melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.” Lima ratus tahun , Gabriel sudah memberi tahu kepada Nabi Daniel masa nubuatan yang berlangsung hingga kedatangan Kristus. Pengetahuan bahwa akhir masa ini sudah dekat, telah menggerakkan Zakharia untuk mendoakan kedatangan Mesias itu. Kini justru utusan yang telah menyampaikan nubuatan itu, sudah datang untuk mengumumkan kegenapannya. [KSZ1 89.1]